Sabtu, 01 Juni 2013

Belajar Sepanjang Waktu, Membangun Sosok Diri

Belajar? untuk apa siech? mengapa harus belajar? apa hubungannya dengan sosok diri? tentu bukan belajar seperti gaya belajar di meja sekolah seperti saat ini. bukan dengan menghafal untuk bahan ujian saja kemudian mengharapkan nilai yang bagus diatas kertas. Belajar seperti ini tidak akan meningkatkan mutu yang ada dalam diri. ketika seseorang belajar dan  mengharapkan dirinya dapat bermanfaat meningkatkan mutu yang ada dalam dirinya, dia hanya dapat mewujudkan harapan itu dengan kepercayaan akan kemampuan, kemudian dilandasi keyakinan tentang misi hidup. Dan untuk mewujudkan semua itu, kita juga harus mengetahui misi hidup utama kita, yaitu "mengisi hidup ini dengan ketaatan kepada Allah Sang Pencipta".

Kepastian dan keyakinan terhadap misi hidup ini melahirkan kebiasaan yang khas, yakni selalu menghubung-hubungkan antara amal perbuatan dengan aturan-Nya, belajar tentang mendidik anak, misalnya dilakukan dengan sungguh-sungguh disertai semangat mengamalkan pengasuhan dan pendidikan anak sesuai aturan Allah SWT. Sehingga pada saat belajar, dorongan iman mengajaknya untuk mengamalkan, bukan hanya sebagai teori saja.

Pembelajaran yang berlandasakan iman ini dapat membentuk kebiasaan berpikir yang islami. Yakni senantiasa menghubungkan antara kenyataan apapun dengan landasan islam. Jika tidak, maka akan muncul sosok-sosok yang hanya berteori islam. sedangkan amal dan kesehariaanya jauh dari islam. 

Membangun sosok diri bukan sekedar membentuk kemahiran dalam bersolek menarik lawan jenis, atau sekedar kemampuan dalam berteori. Mutu diri seorang muslim dan muslimah diukur dengan kepintarannya menyelesaikan setiap urusan sesuia aturan Allah. Tapi, tentu bukan urusan dirinya sendiri saja, namun juga urusan keluarga dan masyarakatnya. Kepintaran ini muncul hanya dengan membiasakan berpikir dan bertingkah laku khas islami. Tanpa kebiasaan ini, seorang muslim dan muslimah menjadi tak bermutu dalam pandangan islam. Hal ini karena islam adalah problem solving yang membawa rahmat bagi umat di seluruh alam. Maka memilih dan menjadi seorang muslim dan mulimah sejati harus meyakini dan memperjuangkan problem solving ini agar benar-benar terasa rahmatnya bagi semua insan manusia. Dan rahmat ini tentu hanya akan terasa ketika seperangkat aturannya dijalankan secara utuh dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Sosok muslim dan muslimah demikian indahnya dengan proses pembelajaran yang berlandaskan iman. Kebaikannya terus terpancar dari kepeduliannya yang melihat setiap kenyataan yang terjadi berjalan sesuai rambu-rambu islam. Wawasannya terus meluas hingga setiap kejahatan musuh-musuh umat dapat difahaminya. Dengan kepedulian dan kepekaannya ini, ia tampil sebagai sosok penyelamat umat. Sifat egoisme yang ada dalam dirinya telah hilang, pengorbanan dan persembahan terbaik ia berikan hanya kepada Allah dan RasulNya semata. Semua dijalankan dengan semangat iman. Wallahu'alam.....
(Dikutip dari Family Guideline 2 "Menjadi Isteri Sejati" dengan pengubahan By Irniati Alwi)

4 komentar: